Mutiara Desa Didorong Menjadi Ruang Pemberdayaan Masyarakat dan Literasi Keuangan
Print Friendly and PDF

BREAKING NEWS
Detikbhayangkaranews.com - Mengungkap Fakta, Peristiwa, Tajam dan Terupdate   •   Detikbhayangkaranews.com - Mengungkap Fakta, Peristiwa, Tajam dan Terupdate   •   Detikbhayangkaranews.com - Mengungkap Fakta, Peristiwa, Tajam dan Terupdate   •  

CETAK BERITA

Print Friendly and PDF

Mutiara Desa Didorong Menjadi Ruang Pemberdayaan Masyarakat dan Literasi Keuangan

الأحد، 30 أغسطس 2026,

 


Kudus – Program Mutiara Desa yang digagas Jaringan Perempuan Kudus (JPK) bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) didorong tidak sekadar menjadi wadah kegiatan keagamaan, tetapi berkembang sebagai ruang pemberdayaan masyarakat sekaligus penguatan literasi keuangan di tingkat desa.

Program tersebut diharapkan menjadi wadah kebersamaan masyarakat melalui kegiatan majelis taklim yang tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan pengetahuan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana silaturahmi, pendidikan keluarga, pemberdayaan perempuan, serta penguatan kepedulian sosial.

Majelis taklim dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun karakter masyarakat. Melalui kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan, nilai-nilai keimanan, akhlak, gotong royong, toleransi, kepedulian terhadap sesama, hingga kecintaan terhadap daerah dapat ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mutiara Desa diharapkan mampu berkembang menjadi pusat pembelajaran keagamaan dan pembentukan akhlak, ruang komunikasi antarwarga, sarana penguatan ketahanan keluarga, serta wadah pemberdayaan perempuan dan masyarakat.

Tak hanya itu, keberadaan Mutiara Desa juga diharapkan mampu menjadi penggerak berbagai kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi produktif di tingkat desa.

“Saya berharap Mutiara Desa tidak berhenti pada kegiatan pengajian, tetapi berkembang menjadi gerakan masyarakat yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar,” ujar Dewi Nafisa Prabawati, S.Hum., M.H.

Menurutnya, penguatan kapasitas masyarakat perlu dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya dari sisi spiritual dan sosial, tetapi juga melalui peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola kehidupan ekonomi keluarga.

Dalam konteks tersebut, literasi keuangan menjadi salah satu kemampuan penting yang perlu ditanamkan sejak dari lingkungan keluarga.

Literasi keuangan tidak semata-mata berkaitan dengan seberapa besar pendapatan seseorang. Lebih jauh, kemampuan tersebut mencakup kecakapan membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun anggaran, menabung, mengelola utang, memahami risiko, memilih layanan keuangan secara bijak, hingga meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk penipuan.

Kebiasaan sederhana dapat mulai diterapkan di lingkungan keluarga. Di antaranya dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran, membiasakan menabung secara rutin, memisahkan keuangan usaha dengan keuangan pribadi, serta berhati-hati terhadap tawaran pinjaman maupun investasi yang tidak jelas.

Selain itu, komunikasi mengenai perencanaan keuangan juga penting dibangun dalam keluarga agar setiap anggota memiliki pemahaman yang sama mengenai pengelolaan keuangan rumah tangga
.



Mendorong Sinergi Mutiara Desa dan Duta Literasi Keuangan

Penguatan program Mutiara Desa juga dapat dilakukan melalui sinergi dengan Duta Literasi Keuangan. Keduanya memiliki peran yang saling melengkapi dalam memperluas edukasi sekaligus pendampingan kepada masyarakat.

Majelis taklim dapat menjadi ruang edukasi yang dekat dengan kehidupan warga, sementara Duta Literasi Keuangan dapat memberikan materi praktis dan pendampingan sesuai kebutuhan masyarakat.

Sinergi tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari kelas pengelolaan keuangan keluarga, pelatihan pencatatan keuangan sederhana bagi pelaku UMKM perempuan, diskusi mengenai budaya menabung dan pengelolaan utang, edukasi keamanan transaksi digital, hingga sosialisasi kewaspadaan terhadap penipuan dan tawaran produk atau layanan keuangan yang berisiko.

Dengan pendekatan tersebut, Mutiara Desa diharapkan tidak hanya menjadi tempat berkumpul dan belajar keagamaan, tetapi juga menjadi ruang tumbuh masyarakat yang lebih mandiri, produktif, peduli, dan memiliki kemampuan mengelola kehidupan ekonomi secara bijak.

Keterlibatan perempuan menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Perempuan yang memiliki pemahaman mengenai pengelolaan keuangan diharapkan mampu menjadi penggerak literasi keuangan di dalam keluarga sekaligus mendorong pengembangan ekonomi produktif di lingkungan masyarakat.

Melalui kolaborasi antara Jaringan Perempuan Kudus, OJK, Mutiara Desa, dan Duta Literasi Keuangan, edukasi diharapkan dapat berlangsung lebih dekat dengan masyarakat dan menjawab kebutuhan nyata warga.

Pada akhirnya, Mutiara Desa diharapkan mampu menjadi salah satu model pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas yang mengintegrasikan nilai keagamaan, ketahanan keluarga, kepedulian sosial, pemberdayaan perempuan, serta literasi dan kemandirian ekonomi. (Tri Ajikusumo)

TerPopuler