Purwokerto - Tulisan bernada provokatif muncul di sejumlah bagian dinding lingkungan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Senin (24/8/2026). Aksi vandalisme tersebut terjadi di tengah sorotan terhadap kampus setelah Rektor Unsoed ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan pemerasan dan gratifikasi terkait jual beli kursi mahasiswa baru.
Sejumlah tulisan yang ditemukan di dinding kampus antara lain berbunyi “Tikus Rektorat, Maling” serta kalimat lain yang bernada kasar dan provokatif.
Juru Bicara Unsoed, Edi Santoso, menilai aksi tersebut bukan dilakukan oleh mahasiswa. Ia justru menduga terdapat pihak tertentu yang sengaja memanfaatkan situasi untuk memprovokasi.
Juru Bicara Unsoed, Edi Santoso, menilai aksi tersebut bukan dilakukan oleh mahasiswa. Ia justru menduga terdapat pihak tertentu yang sengaja memanfaatkan situasi untuk memprovokasi.
“Saya kira, itu bukan mahasiswa, tapi ada upaya memprovokasi,” kata Edi Santoso saat ditemui di Kantor Rektorat Unsoed Purwokerto, Senin (24/8/2026).
Menurut Edi, dugaan tersebut diperkuat dengan kondisi kamera pengawas atau CCTV di sekitar lokasi. Pihak kampus menemukan indikasi bahwa perangkat CCTV mengalami kerusakan sebelum aksi vandalisme terjadi.
“Ternyata, di CCTV rusak, ada dugaan CCTV dirusak sebelum melakukan aksi itu,” ujarnya.
Edi bahkan menduga aksi vandalisme tersebut dilakukan dengan persiapan tertentu. Namun, pihak kampus belum menyampaikan siapa pihak yang diduga bertanggung jawab atas aksi tersebut.
Di sisi lain, Edi mengakui hingga kini belum ada langkah khusus untuk memperketat penjagaan di lingkungan kampus.
“Tapi tidak ada upaya memperketat penjagaan. Mungkin banyak pihak yang berkepentingan,” tuturnya.
Kampus Pahami Kegelisahan Mahasiswa
Munculnya vandalisme tersebut berlangsung bersamaan dengan aksi mahasiswa yang menyuarakan tuntutan reformasi kampus. Edi menegaskan, pihak Unsoed memahami kegelisahan mahasiswa menyikapi persoalan yang tengah terjadi.
Menurutnya, mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi, termasuk melalui aksi demonstrasi.
“Saya kira wajar mahasiswa turun (demo), tentu kita memahami dengan keadaan ini,” katanya.
Edi menuturkan, kegelisahan terhadap persoalan yang terjadi di Unsoed bukan hanya dirasakan mahasiswa. Para dosen, dekan, hingga tenaga kependidikan juga merasakan hal serupa.
Sejak kasus dugaan jual beli kursi mahasiswa baru mencuat, pihak kampus telah mengajak jajaran dekan, dosen, serta tenaga kependidikan untuk bersama-sama menghadapi persoalan tersebut sekaligus melakukan perbaikan internal.
“Justru kita awalnya mengajak para dekan dan dosen dan tenaga pendidik, bukan hanya kegelisahan mahasiswa saja. Tapi kegelisahan semua pihak, dalam melakukan perbaikan,” jelasnya.
Edi menilai, aksi mahasiswa yang berlangsung saat ini pada dasarnya merupakan gambaran dari keresahan yang berkembang di lingkungan sivitas akademika Unsoed.
“Aksi mahasiswa ini menggambarkan seluruh civitas akademika Unsoed,” ujarnya.
Sementara itu, munculnya tulisan provokatif di lingkungan kampus menjadi persoalan tersendiri bagi Unsoed. Pihak kampus perlu memastikan aksi penyampaian aspirasi tetap berlangsung secara demokratis, sekaligus mencegah tindakan vandalisme dan provokasi yang berpotensi memperkeruh situasi di tengah proses pembenahan internal kampus. (*)
