Demak - Tradisi Grebeg Besar, sebuah akulturasi budaya dan religi tahunan masyarakat Muslim Demak dalam menyambut Hari Raya Iduladha 10 Zulhijah, kembali digelar. Ribuan warga lokal maupun pengunjung dari luar kota tampak memadati sepanjang jalan untuk menyaksikan jalannya prosesi, Rabu (27/5/2026).
Puncak acara yang dimulai pukul 10.00 WIB ini diwarnai ritual sakral dan kirab pusaka. Rombongan diberangkatkan dari Pendopo Kabupaten Demak menuju Masjid Agung Demak, sebelum akhirnya bergerak ke Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu. Rangkaian prosesi jalan kaki ini juga mencakup serah terima abon-abon dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang bertempat di Pendopo Notobratan, Kadilangu, Demak.
Bupati Demak, dr. Eisti'anah, S.E., menyampaikan apresiasi mendalam kepada keluarga Kasepuhan Kadilangu atas sinergi yang terjalin dengan Pemerintah Kabupaten Demak. Ia menjelaskan ada empat elemen utama dalam tradisi budaya ini:
- Iring-iringan Prajurit 40: Kirab pasukan pengawal kraton yang dikenal sebagai Prajurit Patang Puluhan.
- Tumpeng Songo: Arak-arakan sembilan tumpeng yang melambangkan dakwah Walisongo.
- Jamasan Pusaka: Prosesi pencucian pusaka peninggalan Sunan Kalijaga di Kadilangu.
- Pasar Rakyat Grebeg Besar: Dipusatkan di Zona III Taman Parkir Tembiring Jogo Indah.
"Keberlangsungan tradisi ini menjadi bukti kuat komitmen masyarakat dalam menjaga peninggalan sejarah dan nilai budaya Islam di Kota Wali," tutur Eisti'anah.
Dalam prosesi tersebut, penyerahan minyak jamas dari Pakubuwono XIV yang diwakili oleh KGPAA Mangkunegoro (Gusti Purbaya) serta GKPHA Dipokusumo, diterima langsung oleh sesepuh ahli waris Sunan Kalijaga, HR. Muhammad Cahyo Imam Santoso.
Sebagai bagian dari syiar dan hiburan, rangkaian Pasar Rakyat juga berlangsung meriah mulai 8 Mei hingga 6 Juni 2026. Acara ini menyuguhkan berbagai wahana mainan anak, hiburan umum, stan suvenir, serta pusat kuliner dan jajanan khas Demak.
Sejarah dan Makna Grebeg Besar
Sebagai kabupaten di kawasan pesisir Pantai Utara Jawa, Demak kaya akan aset budaya dan sejarah yang kuat. Wilayah ini menyimpan destinasi wisata religi utama, seperti Makam Raden Fatah (raja-raja Demak) di kompleks Masjid Agung Demak, serta Makam Sunan Kalijaga di Desa Kadilangu.
Tradisi Grebeg Besar sendiri telah dikenal sejak abad XV–XVI M pada masa Kesultanan Islam Demak di bawah pimpinan Raden Fatah. Tradisi ini terus berlanjut ke zaman Kerajaan Pajang dan Mataram Islam hingga lestari sampai hari ini.
Secara filosofis, kata grebeg berarti digiring, dikumpulkan, atau dikepung, yang bermakna mengumpulkan masyarakat di suatu tempat untuk kepentingan khusus. Perayaan ini digelar sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas perjuangan para leluhur, khususnya dalam syiar Islam yang dilakukan oleh Walisongo, terutama Sunan Kalijaga.
Pada hakikatnya, inti dari Grebeg Besar adalah upacara penjamasan pusaka Sunan Kalijaga yang secara adat hanya boleh dilakukan oleh anak cucu atau keturunan langsung beliau. Hal ini memegang amanah leluhur untuk merawat peninggalan pusaka berupa Kiai Gondil (Kutang Ontokusuma) sebuah ageman yang melambangkan hiasan agama Islam serta Kiai Crubuk, keris pegangan santri yang selalu menemani Sunan Kalijaga setiap kali berdakwah.