Paguyuban Spiritual Jawi Gelar Tasyakuran Sambut Malam 1 Suro 1960 Tahun Saka 1448 H/2026 M
Print Friendly and PDF

CETAK BERITA

Print Friendly and PDF

Paguyuban Spiritual Jawi Gelar Tasyakuran Sambut Malam 1 Suro 1960 Tahun Saka 1448 H/2026 M

الأربعاء، 17 يونيو 2026,

Demak – Keluarga Besar Paguyuban Spiritual Jawi (PSJ) Nguri-nguri Budoyo Leluhur yang dipimpin Mbah Puji Suroso atau yang akrab disapa Mbah Roso menggelar tasyakuran dan doa bersama dalam rangka menyambut Malam 1 Suro 1960 Tahun Saka atau 1 Muharam 1448 Hijriah/2026 Masehi. Kegiatan berlangsung di Dukuh Ngemplak RT 02 RW 04, Desa Jleper, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, Selasa (16/6/2026) pukul 20.00 WIB.

Pada momentum pergantian tahun Jawa Islam tersebut, Paguyuban Spiritual Jawi juga mengagendakan pembentukan divisi organisasi serta kegiatan spiritual bertajuk Wedar Sabdo Tigo Kanuragan. Dalam kegiatan tersebut diperkenalkan tiga ajian, yakni Ajian Kalacokro sebagai perisai diri, Ajian Jala Sutro untuk meningkatkan aura dan daya tarik spiritual, serta Ajian Mega Mendung yang dipercaya berfungsi untuk menghalau angin dan hujan.

Acara tersebut dihadiri para pemerhati spiritual dan supranatural dari berbagai daerah, di antaranya Demak, Jepara, Kudus, Rembang, Grobogan, Semarang, Solo, Yogyakarta, Batang, Pekalongan, Banjarnegara, Cirebon, Malang, Tuban, Pasuruan, hingga Blitar. Jumlah tamu yang hadir diperkirakan mencapai lebih dari 200 orang.

Para tamu terdiri atas ketua spiritual se-Jawa Tengah, anggota Spiritual Jawi dari berbagai daerah, sejumlah kepala desa dan mantan kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, warga sekitar, serta undangan lainnya. Kegiatan ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan, sekaligus memohon keselamatan, keberkahan, serta perlindungan dari segala musibah dan bencana.

Malam 1 Muharam 1960 Tahun Saka yang bertepatan dengan 16 Juni 2026 merupakan pergantian tahun baru dalam kalender Jawa Islam. Tradisi Malam 1 Suro yang telah berlangsung sejak masa Sultan Agung pada abad ke-17 dikenal sebagai malam yang sarat nilai spiritual dan refleksi diri.

Ketua Spiritual Jawi, Mbah Puji Suroso atau Mbah Roso, dalam sambutannya menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk doa bersama, introspeksi diri, dan ikhtiar memperbaiki kehidupan pada masa mendatang.

"Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki dan berbagai kenikmatan yang telah kita terima," ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Paguyuban Spiritual Jawi tidak memungut iuran dari para anggotanya. Menurutnya, dana kas organisasi hanya berasal dari sedekah sukarela anggota yang diberikan dengan ikhlas untuk mendukung berbagai kegiatan.

Mbah Roso menambahkan, seorang pemimpin harus memiliki tanggung jawab terhadap anggotanya, menjunjung moral dan adab, berkomitmen dalam perkataan, mampu mengayomi, serta siap menerima kritik dan saran dari anggota.

Usai tasyakuran dan doa bersama, seluruh peserta melanjutkan kegiatan dengan mandi bersama di Pantai Teluk Awur, Jepara. Sebagian peserta menggunakan tiga mobil pribadi dan satu kendaraan pikap, sementara lainnya berangkat dengan sepeda motor secara beriringan.

"Kegiatan tersebut dimaksudkan sebagai simbol pembersihan diri lahir dan batin, sekaligus menerima gemblengan dan olah kanuragan Ajian Kalacokro, Ajian Jala Sutro, dan Ajian Mega Mendung yang diberikan para sesepuh Paguyuban Spiritual Jawi," jelasnya.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan tasyakuran, doa bersama, serta ritual mandi laut dan olah kanuragan selesai dilaksanakan, para pengurus dan anggota kembali ke rumah masing-masing.

TerPopuler